Testamen Politik Soekarno, bag. 2 (habis)

Testamen itu merupakan statemen yang bagus dan agung. Didalamnya kembali tampil tekanan Tan Malaka mengenai persatuan dan kesiapan untuk berkorban. Dan diberikan juga perspektif internasional. Diperkirakan Tan Malakalah penyusunnya, tapi dari teks itu sendiri tidak dapat hal itu dibuktikan dengan tegas. Bagaimanapun ia menganggap statemen itu penting. Dialah seorang yang meninggalkan Jakarta tanggal 1 Oktober itu juga dengan mengantongi testamen itu. Selanjutnya tidak pernah lagi ia kembali ke ibukota.

Soebardjo tidak berhasil menyampaikan lembar testamen itu kepada Sjahrir dan Wongsonegoro. Bukannya karena force majeure, tapi kemungkinan karena enggan menyampaikan. Ketika Hatta berbicara tentang testamen itu kepada Sjahrir sekitar sepuluh hari sesudah ditulisnya testamen, Sjahrir ternyata tidak tahu apa-apa tentangnya. Bulan Februari 1946 Wongsonegoro ditanya oleh Hatta, ia juga tidak tahu apa-apa.

Campur tangan Hatta yang menggantikan Tan Malaka sebagai ahli waris tunggal dengan empat serangkai itu tak sangsi lagi membuat Soebardjo dan kawan-kawannya tak senang. Tapi apakah yang hendak dilakukan Soebardjo dengan testamen itu? Apakah itu bagian dari permainan politik Soebardjo dan kawan-kawannya, yaitu untuk memastikan agar posisi mereka tetap menonjol? Dan dasarnya adalah posisi yang pernah mereka peroleh berkat Angkatan Laut Jepang, dan didukung oleh kekuatan bersenjata yang mereka ambil alih dari Angkatan Laut? Dan apakan dalam permainan itu Tan Malaka yang naif hanya menjadi pion mereka? Soebardjo membatasi kabar tentang hadirnya Tan Malaka dirumahnya hanya pada kawan-kawannya di Angkatan Laut. Ia menghalangi Tan Malaka untuk berkenalan dengan para pemuda, dan itu sesuai pula dengan sikap tertutup Tan Malaka sendiri. Soebardjo bahkan tak membuka mulut kepada Soekarno dan Hatta tentang munculnya veteran politik yang misterius dan legendaris itu.

Tan Malaka terang menganggap testamen itu penting. Ia membawanya kemana-mana. Ia dapat menggunakannya, manakala Soekarno dan Hatta tidak mampu lagi memimpin. Tapi apakah testamen itu dapat menjadi surat rekomendasi? Mustahil kiranya. Adanya testamen itu merupakan rahasia, dan Tan Malaka sendiri untuk sementara lebih suka tetap anonim, ketika ia meninggalkan Jakarta tanggal 1 Oktober untuk berkeliling Jawa. Mengungkapkan jati dirinya dan menunjukkan testamen hanya akan membuat orang tak percaya, curiga dan bingung. Justru itulah yang terjadi ketika ia ditahan di Mojokerto. Waktu itu wartawan Moh. Sjamsoel Arifin sempat membaca testamen itu dan menyalinnya; kemudian ia ajukan pertanyaan kepada Soekarno, apakah benar ada testamen demikian. Soekarno membenarkannya.

Dari susunan testamen kelihatan, Soekarno merasa kedudukannya goyah. Kelihatan juga bahwa sukar baginya tunduk kepada badan pembuat keputusan seperti diatur dalam Undang-Undang Dasar. Dengan janjinya dalam testamen itu berarti ia mengabaikan Komite Nasional Indonesia Pusat. Pemberitahuan kepada kabinet pun ia lakukan dengan istilah-istilah yang sangat kabur. Hatta pada pokoknya tak keberatan dengan testamen itu, tapi ia tak setuju dengan nama penerima testamen seperti diusulkan Soekarno. Baik Soekarno maupun Hatta merasa khawatir dirinya akan ditahan Sekutu. Kekhawatiran Soekarno lebih besar dari kekhawatiran Hatta, mungkin karena masa lalunya, karena dengan terang-terangan ia mendukung kampanye propaganda Jepang melawan Sekutu. Hatta lebih mantap sikapnya. Menurut pendirian Hatta, kalau Sekutu menahan mereka, Sekutu justru akan menanggung akibatnya, karena dengan mudah rakyat Indonesia akan dapat dikerahkan untuk mendukung mereka.

Sesudah pada tanggal 29 September kelihatan, bahwa tidak akan segera terjadi penahanan atas Soekarno-Hatta. Begitu pasukan Inggeris yang pertama mendarat, komandan pasukan tersebut, Letnan Jendral Christison, memberikan statemen. Isinya penjelasan bahwa “Pasukan Inggeris tak ada maksud mencampuri urusan dalam negeri Indonesia, dan hanya hendak menegakkan hukum dan ketertiban”. Apakah dengan demikian testamen tersebut menjadi hal yang berlebih-lebihan, dan segala kontroversi yang ditimbulkannya hanya menjadi sekedar upaya untuk membesar-besarkan masalah? Ataukah seperti dikatakan oleh Anderson, “Testamen itu sudah tidak relevan untuk dibicarakan?”

Penilaian demikian barangkali tak dapaqt dikenakan pada suatu realitas yang sebetulnya banyak seluk beluknya ini. Pada tanggal 30 September Soekarno masih sepenuh-penuhnya yakin, bahwa da manfaatnya membuat testamen. Dan Hatta pun tak menolak usul Soekarno itu. Terlampau jauh kiranya kalau kita menyimpulkan, bahwa Hatta menyetujui pembuatan testamen demikian hanya untuk menolong Soekarno melepaskan diri dari keadaan sulit yang dihadapinya, sementara dia sendiri yakin testamen demikian tak ada gunanya. Statemen Christison tentu saja tidak dengan segera mereka pandang sebabagai pengakuan de fakto Inggeris atas Republik, karena itu mereka memprotesnya dengan keras. Baik Soekarno maupun Hatta beranggapan, bahwa kemungkinan Sekutu untuk bertindak terhadap para pemimpin Republik merupakan kemungkinan yang riil. Mereka waktu itu belum tahu bagaimana hakekat hubungan Inggeris dengan Belanda, dan bagaimana pula kekuatan militer mereka. Lagipula, bahaya
penyingkiran Soekarno dan Hatta tidak hanya datang dari Angkatan Bersenjata Sekutu yang sedang mendarat. Di Jakarta sendiri kekuasaan pemerintahan waktu itu tidak jelas berada di tangan siapa. Unit-unit militer Jepang masih bisa beraksi, dan dipandang sebagai faktor yang sukar diramalkan. Belanda pun memiliki pendukungnya sendiri. Warganegara dan tawanan perang Belanda waktu itu sudah mulai kembali ke Jakarta dari
kamp-kamp interniran. Mereka menyusun diri dan bergabung dengan kelompok-kelompok pro-Belanda yang selama itu tidak masuk kamp interniran, seperti para pemuda Indo-Belanda dan orang-orang Ambon bekas serdadu kolonial. Mereka sudah berhasil merebut sejumlah senjata. Nemtrokan dengan kelompok-kelompok bersenjata Republik pun tidak dapat dihindaqrkan, dan itu mnyebabkan juga terjadinya penculikan, pembunuhan, dan perampokan. Jakarta menjadi kota yang sangat tidak aman, menjadi lautan kantong yang ruwet dan terus mengalami pergeseran. Dan tiap kantong berada dalam kekuasaan politik masing-masing. Lebih-lebih di pihak Indonesia kantong-kantong itu lebih rumit lagi nuansanya. Soekarno dan Hatta betul-betul merasakan adanya kemungkinan pembunuhan terhadap dirinya, dengan atau tanpa rencana, dan dengan atau tanpa dorongan dari penguasa Belanda. Ada beberapa insiden yang membenarkan adanya kemungkian itu.

Dengan lolosnya Soekarno-Hatta dan kepindahan mereka dengan selamat ke Yogya pada tanggal 4 Januari 1946 tidak berarti bahwa sejarah testamen itu berakhir, karena disamping testamen yang memuat nama empat orang ahli waris, beredar juga testamen yang hanya memuat nama Tan Malaka.

Kami Ir. Soekarno, Ketua Republik Indonesia, dan Drs. Moh. Hatta, selaku Wakil Ketua pemerintah tersebut, meyerahkan pimpinan pemerintah Republik Indonesia dengan suci dan ikhlas hati kami menyerahkan kepada Datoek Tan Malaka, pemegang surat ini”.

Hatta menyebut Chaeroel Saleh sebagai roh jahat dibalik pemalsuan dokumen itu. Ia dasarkan keterangannya itu pada hasil pemeriksaan dinas penyidikan sipil dan militer Republik.

Ada kemungkinan testamen palsu itu telah beredar. Tidak jelas, seberapa luas ia beredar, dan apa maksud diedarkannya. Tahun 1948 musuh-musuh Tan Malaka menyampaikan kepada Kahin bahwa Tan Malaka sendirilah yang memalsukan testamen yang kedua itu. Ia perlihatkan “versi testamennya sendiri itu kepada orang-orang yang berpengaruh”, ketika ia berkeliling Jawa. Ia katakan kepada mereka, “bahwa Soekarno dan Hatta sudah menjadi tawanan Inggeris di Jakarta dan tidak dapat meninggalkan kota itu. Karena mereka sudah menjadi tawanan, demikian alasannya, wajiblah baginya mengambil allih kekuasaan, karena dialah yang mereka kuasakan untuk mengambil alih kekuasaan itu apabila mereka tidak dapat melaksanakannya”. Kabarnya kampanye bisik-bisik dari Tan Malaka itulah yang mendorong Soekarno berkeliling Jawa dibulan Desember. Dengan perjalanan itu ia ingin menunjukkan bahwa dirinya bukan tawanan di Jakarta. Kampanye itu juga yang ikut menyebabkan pindahnya pemerintah Republik ke Yogya. Abu Hanifah pernah melihat testamen palsu itu “di Solo tahun 1946, ketika seorang bekas teman sekolah saya yang kemudian menjadi pengikut Tan Malaka memperlihatkan testamen tersebut.

Hatta menyebut Chairoel Saleh sebagai roh jahat dibalik pemalsuan dokumen itu, ia dasarkan keterangan itu pada hasil pemeriksaan dinas penyidikan sipil dan militer Republik.

Ada kemungkinan testamen palsu itu sudah beredar. Tidak jelas, ia beredar dan apa maksud diedarkannya. Tahun 1948 musuh-musuh Tan Malaka menyampaikan pada Kahin bahwa Tan Malaka sendirilah yang memalsukan Testamen yang kedua itu. Ia perlihatkan “versi testamennya sendiri itu kepada orang-orang yang berpengaruh”, ketika ia berkeliling Jawa. Ia katakan kepada mereka, “bahwa Soekarno dan Hatta sudah menjadi tawanan di Jakarta dabn tidak dapat meninggalkan kota itu. Karena mereka sudah menjadi tawanan, demikian alasannya, wajiblah baginya mengambil alih kekuasaan karena dialah yang mereka kuasakan untuk mengambil alih kekuasaan itu apabila mereka tidak dapat melaksanakannya. “Kabarnya kampanye bisik-bisik dari Tan Malaka itulah yang mendorong Soekarno keliling Jawa di bulan Desember.” Dengan perjalan itu ia ingin menunjukkan bahwa dirinya bukan tawanan di Jakarta. Kampanye itu juga yang ikut menyebabkan pemerintahan Republik ke Yogya. Abu Hanifah pernah melihat testamen palsu itu “di Solo tahun 1956, ketika seorang bekas teman sekolah saya yang kemudian menjadi pengikut Tan Malaka memperlihatkan dokumen itu kepada saya, dengan permintaan agar saya tidak menyampaikan kepada siapa-siapa”.

Cerita Kahin itu sukar diterima. Waktu itu umumnya orang belum tahu bahwa testamen demikian pernah dibuat. Hal itu dibuktikan oleh pengalaman Wongsonegoro dan Syamsoel Arifin, yang sudah disebut dimuka. Yang dibaca oleh Syamsoel Arifin adalah testamen yang asli. Sedemikian jauh dialah satu-satunya orang yang pernah melihat testamen itu di Tan Malaka. Kemudian di tahun 1946 salinan testamen yang asli itu beredar di Jawa Barat. A.H. Nasution, yang waktu itu menjadi Kepala Staf Tentara Republik di Jawa Barat, tidak percaya bahwa testamen itu benar ada, tapi kepadanya Soekarno mengatakan benar ada, di bulan November 1946. Tan Malaka berkeliling Jawa masih secara incognito; ia tidak membawa rombongan besar “orang-orang berpengaruh”. Saya tidak cenderung percaya bahwa Tan Malaka terlibat langsung dalam rencana pemalsuan yang ada terang-terangan itu. Untuk itu tidak ada bukti maupun petunjuk. Pengikut Tan Malaka sangat beraneka warna. Mereka itulah kemungkinan sumber pemalsuan. Barangkali pemalsuan itu lalu dibesar-besarkan dan dimanfaatkan justru untuk menentang Tan Malaka.

Keberadaan testamen itu (entah satu entah lebih) lama menjadi rahasia. Pernah dibuat rancangan dekrit untuk mencabutnya, yang memuat teks lengkap testamen yang asli. Maksud dekrit adalah untuk menariknya kembali, karena testamen itu “telah dimanfaatkan oleh satu kelompok masyarakat dengan cara yang salah”. Disamping itu diberikan teks testamen yang palsu disertai keterangan sebagai berikut ; Dengan ini kami permaklumkan kepada umum bahwa testamen politik demikian tidak pernah dibuat atau ditanda tangani”.

Rancangan dekrit tertanggal 29 Maret 1946 itu tidak pernah menjadi dokumen resmi, dan tidak pernah diumumkan. Sebabnya barangkali karena dua minggu sebelumnya Tan Malaka beserta para pengikutnya yang penting-penting telah ditahan dan dengan demikian secara politis mereka telah dilumpuhkan. Kiranya akan timbul kesan yang tak terlalu baik, kalau orang tahu bahwa Soekarno dan Hatta pernah sampai mempertimbangkan untuk menjadi penggantinya setengah tahun yang lalu. Lagipula cara
penunjukkan itu bertentangan dengan semua prosedur menurut Undang-Undang Dasar.

Dalam pembelaannya di hadapan Mahkamah Agung Tentara pada bulan Februari1948, Yamin menyinggung kedua testamen itu, dan ia berikan teks lengkap keduanya. Ia kutip keduanya dari dokumen-dokumen lampiran dalam laporan interogasi Hatta mengenai peristiwa 3 Juli 1946. Sementara itu Tan Malaka sendiri dalam otobiografinya jilid III memberikan juga keterangan menurut versinya sendiri. Jilid ini tidak pernah terbit : sebagian yang memuat “cerita tentang testamen” diumumkan tahun 1952 dengan judul “Pandangan Hidup”. Buku Adam Malik mengenai Proklamasi terbit tahun 1950. Menurut Adam Malik, Soebardjo telah mencoba membujuk Tan Malaka agar mau tinggal di rumahnya lebih lama dengan cara mengulur perjumpaannya dengan Soekarno. “Tapi malang, kepercayaan yang belum pernah diumumkan itu berubah bentuk menjadi kebalikannya, dengan cara yang jahat, tersembunyi, dan licik.”

endapat Kahin (1952) lama menjadi panutan, gambarannya yang negatif pada Tan Malaka sebagian ditentukan oleh kasus testamen itu. Adapun Anderson (1972) membicarakan peranan Tan Malaka dengan cara yang lebih seimbang, namun menurutnya semua masalah itu “tidak relevan”. Ia bahkan tidak menyinggung kemungkinan pemalsuan testamen itu.

Walau demikian testamen itu tetap menjadi masalah yang menggelitik. Didalam pers Indonesia berkali-kali pecah diskusi tentangnya. Moehkardi membuka diskusi dalam “Kompas” bulan Mei 1972. Ia susun data yang sudah dikenal, lalu ia minta Hatta dan Soebardjo menyampaikan apa yang mereka ketahui. Sebulan demikian Sayoeti Melik bereaksi dengan membuat karangan panjang. Ia menolak sama sekali pendapat Kahin. Menurutnya, Tan Malaka tidak pernah minta testamen; “testamen itu adalah prakarsa Soekarno. Dan Keduanya: “penulis ini tahu bahwa Tan Malaka orang yang tidak percaya dengan pameo tujuan menghalalkan cara. (….) Dalam pergaulan sehari-hari ia bersikap hati-hati dalam menjaga kemurnian jiwanya. Ia bicara terus terang. Kalau hal itu tidak mungkin, lebih baik ia diam. Ia tak suka kebohongan, apalagi kelicikan. Ia berani hidup dalam kekuarangan, dan ia siap memberi pengorbanan apa saja. Ia tak punya ambisi pribadi.”

Soebagijo I. N. (1972) melaporkan wawancaranya dengan Hatta mengenai testamen itu; itulah untuk pertama kali pendapat Hatta diumumkan. Tulisan terakhir dalam rangkaian itu adalah karangan R. Mohammad Ali (1972) yang terutama mengandalkan otobiografi Tan Malaka dan ia mengakhiri tulisan itu dengan menyesali orang Indonesia. Menurutnya
lebih baik orang Indonesia menulis sejarahnya sendiri dan tidak menyerahkannya kepada penulis “yang meragukan” seperti Kahin dan Brackman.

Menurut Sayoeti Melik, dokumen yang asli itu jatuh ke tangan pemimpin komunis D.N. Aidit, bersama dengan kopi asli Proklamasi. Aidit menunjukkan keduanya pada Soekarno, dan Soekarno membakar testamen itu. Kemudian S.K. Trimurti mengoreksi dan melengkapi cerita itu. Menurut Trimurti, tahun 1964 ia bertemu dengan Samsu Harya Udaya. Samsu mengatakan kepadanya bahwa ia menyimpan testamen asli itu, dan bertanya kepada Trimurti apa yang harus ia lakukan. Trimurti beranggapan, yang terbaik adalah dokumen yang kontroversial itu dimusnahkan. Dokumen itu bisa menyebabkan kontroversi, dan lagi itu berasal dari zaman ketika pemerintah belum dapat berfungsi sesuai segala peraturan konstitusi.

Aidit yang seringkali bertemu dengan Soekarno membantu mempertemukan Trimurti dan Samsu dengan Soekarno diluar protokol. Begitulah pada suatu pagi ketiga orang ini bertemu di Istana Soekarno. Trimurti menjelaskan maksud kedatangan mereka menurutnya yang terbaik adalah memusnahkan testamen itu, sebagai contoh tingkah laku yang konstitusional. Soekarno setuju, lalu ia merobek-robek kertas itu dan membakarnya dihadapan Trimurti dan Samsu, yang kemudian pulang dengan perasaan yang sangat puas.

(DIKUTIP DARI HARRY A.POEZE –KITLV, LEIDEN, NEDERLAND).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: