Testamen Politik Soekarno, bag. 1

Tanggal 17 Agustus 1945, Soekarno dan Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia dalam suatu upacara yang singkat dan terburu-buru di pekarangan rumah Soekarno di Jakarta. Hadirinnya terbatas pada sejumlah kecil perintis. Di situ mereka mendengarkan pernyataan kemerdekaan yang dibuat sesingkat mungkin : Kami, bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia. Hal-hal mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain diselenggarakan dengan seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Baru dua hari sebelumnya tentara Jepang mendengar bahwa Kaisar mereka menyerahkan negerinya, dan kini mereka ditugaskan oleh Sekutu yang menang perang untuk menjaga status quo, hukum dan ketertiban, sampai Sekutu tiba. Menjaga status quo berarti berlawanan arah dengan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, kaarenanya ketika desas-desus tentang upacara yang akan diadakan itu sampai ke telinga penguasa militer Jepang, mereka kirimlah patroli ke jalan-jalan untuk mencegah pelaksanaan upacara tersebut. Tapi berkat jasa Biro Penghubung Angkatan Laut Jepang yang memberikan fasilitas persidangan, maka malam sebelumnya bisa berlangsung debat sengit mengenai Proklamasi. Waktu itu Soekarno, Hatta, dan para politisi tua yang lain masih percaya dengan janji-janji Jepang bahwa Jepang akan meyerahkan kekuasaan kepada Republik yang akan dibentuk. Sementara itu para pemuda yang menyala-nyala semangatnya menuntut dilaksanakannya proklamasi yang dengan tegas melawan Jepang dan dengan demikian bisa juga memperoleh simpati dari Sekutu. Waktu itu mereka sudah berhasil menghimpun angkatan bersenjata kecil yang dapat dipakai melancarkan serangan terhadap Jepang. Namun wibawa para pemimpin tua, sikap lunak para opsir Angkatan Laut Jepang, dan kesangsian para pemuda sendiri mengenai konsekuensi yang mungkin menimpa telah menyebabkan terjadinya kompromi. Sebelum pasukan Jepang sempat datang untuk mencegah upacara, segalanya pun sudah terjadi — Mukadimah Undang-Undang Dasar dibacakan, Soekarno membacakan dua baris Proklamasi, bendera Merah Putih dikibarkan, dan lagu kebangsaan dikumandangkan. Berita tentang peristiwa bersejarah itu sengaja dihalangi agar tidak masuk suratkabar atau radio. Tapi berkat para kurir pemuda berita itu bisa sampai di kota-kota lain di Jawa.

Iljas Hussein alias Tan Malaka tidak masuk dalam kelompok para perintis tersebut diatas. Mantan pemimpin komunis ini sudah diusir dari negerinya tahun 1922, dan sejak itu ia hidup sebagai buronan. Sejak tahun 1924, ketika ia tiba di Cina sebagai agen Internasionale Komunis, terus ia diburu oleh polisi rahasia Belanda, Inggersi, Perancis, Amerika Serikat, dan Cina. Sesudah gagalnya pemberontakan komunis Indonesia tahun 1926-27 yang ditentangnya, Tan Malaka memutuskan hubungan dengan Moskow dan mendirikan partai sendiri, Partai Repoeblik Indonesia (Pari) di Bangkok. Partai ini begitu tertutup, hingga untuk mengetahui eksistensinyapun Belanda membutuhkan waktu empat tahun. Dan sejak itu Belanda selalu memburu hampir setiap anggota Pari yang sempat direkrut. Sejak itu juga Tan Malaka praktis putus segala hubungan dengan tanah airnya. Sebelum balatentara Jepang menyerbu dengan penuh kemenangan ia sudah melarikan diri dari Cina dan menetap di Singapura, tapi di Singapura ia terkejar lagi, di tahun 1942. Maka iapun menyelinap ke Sumatera, dan dari sana ke Jakarta. Di Jakarta ia hidup sebagai orang biasa, sambil menulis dan memperhatikan. Namun sikap demikian dianggap tidak wajar untuk penghuni kampung, karena itu ia mulai dicurigai Jepang. Ia lalu melamar sebagai pengawas di tambang batubara Bayah, di Banten Selatan yang terpencil. Disana ia berusaha betul meringankan beban penderitaan orang-orang Jawa yang menjadi pekerja paksa, romusha, hingga Jepang mulai mengusutnya. Kerja yang berat, makanan yang buruk, dan berbagai penyakit yang menyertainya, memakan banyak korban jiwa. Ia mulai memendam kebencian kepada kekuasaan Jepang, dan kemudian mulai bersikap sangat kritis terhadap orang-orang Indonesia yang bekerja sama dengan Jepang. Ia mulai melibatkan diri dalam beberapa organisasi buatan Jepang yang tujuannya mengerahkan penduduk untuk mendukung upaya perang. Dengan orang-orang Banten, khusunya pemuda yang radikal, ia bahas masa depan perang, dan apa yang harus mereka lakukan selagi kaklahan Jepang semakin mendekat. Tidak mengherankan, kalau rekan-rekannya yang lebih muda kagum dengan pengetahuan, pengalaman, dan kemampuannya berbicara. Tidak mengherankan juga, kalau pada tanggal 9 Agustus ia dikirim ke Jakarta sebagai wakil mereka untuk menghubungi para pemuda radikal yang menonjol namanya, dan membicarakan kemerdekaan Indonesia bukan sebagai hadiah Jepang melainkan kemerdekaan yang direbut oleh pemuda Indonesia dari tangan penindas Jepang. Kalau Soekarno dan Hatta menolak ambil bagian dalam proklamasi seperti itu, ia mendapat kuasa dari para pemuda Banten untuk menandatangani Proklamasi itu sendiri.

Tan Malaka memang bertemu dengan Soekarni, salah seorang pemuda yang paling blak-blakan dalam mewujudkan proklamasi yang murni, pada tanggal 14 Agustus. Soekarni sudah merasa, bahwa Iljas Hussein itu mungkin Tan Malaka yang sepak terjangnya pernah sangat ia kagumi. Tapi Hussein bisa jadi juga agen Jepang. Di pihak Tan Malaka sendiri, puluhan tahun hidup sebagai pelarian telah membuatnya bersikap hati-hati dan curiga, karena itu enggan ia mengungkapkan jati dirinya kepada Soekarni. Bagaimanapun, kesempatan itu lewat begitu saja. Beberapa tahun kemudian Tan Malaka menulis dalam otobiografinya : “Rupanya sejarah Proklamasi 17 Agustus tidak mengijinkanku untuk ambil bagian secara fisik, hanya secara spritual. Aku sangat menyesalkan hal itu. Tetapi sejarah tidak peduli dengan sesal seorang manusia atau sesal satu kelas manusia”.

Sesudah 17 Agustus Tan Malaka tak berhasil menghubungi para pemuda itu; mereka terus berpindah-pindah untuk menghindari penangkapan Jepang. Soekarno dan Hatta sendiri bersikap rendah hati sesudah melakukan proklamasi siluman itu. Mereka memang mengadakan pertemuan-pertemuan resmi, tapi untuk warga biasa Jakarta tidak ada tanda-tanda bahwa mereka hadir di tengan Republiknya sendiri. Seminggu lamanya Tan Malaka mengembara di seputar Jakarta, mencari pemuda-pemuda yang sesuai. Kepada mereka ia ingin mengungkapkan jati dirinya, dan kepada mereka ia ingin memberikan pimpinan dan nasihat. Ia sungguh putus harapan melihat perkembangan sejarah yang tergelar di hadapannya, sementara ia tidak memberikan pengaruhnya, bahkan lebih buruk lagi, tidak mengetahui perkembangan itu. Maka pada tanggal 25 Agustus ia pergi ke rumah Soebardjo yang pernah dikenalnya di masa pembuangan di Negeri Belanda, dan disitu ia bicara terbuka. Soebardjo pernah bekerjasama erat dengan Jepang, dan karena itu ia dibenci sekali oleh pemuda. Tapi kedudukanya sangat kuat pada minggu-minggu pertama sejarah Republik itu. Hubungannya yang erat dengan Biro Angkatan Laut membuatnya tak tersentuh oleh penguasa militer Jepang dengan polisi rahasianya yang terkenal kejam, kenpeitai. Lebih dari itu ia menguasai banyak sumber daya Angkatan Laut — uang, senjata, tenaga manusia, dan beberapa sarana langka lain — yang memungkinkannya memainkan peranan sangat penting dalam kehidupan Republik yang masih semi klandestin itu.

Jelaslah, Soebardjo bukan pilihan terbaik bagi Tan Malaka untuk melakukan kontak dengan pemuda, tapi ia tak punya pilihan lain, kalau ia tak ingin kehilangan lebih banyak waktunya yang berharga. Soebardjo kaget menjumpai Tan Malaka yang dianggapnya sudah mati, dan baru sesudah itu ia bertanya, apa yang hendak dilakuakan oleh Tan Malaka. Tan Malaka menjawab, ia ingin mengakhiri kehidupan klandestinya, ia menjumpai serta mulai mengenal para pemimpin Indonesia. Soebardjo menawarinya tinggal di pavilyun di pekarangan belakang, dan Tan Malaka menerimanya dengan baik. Hampir seketika itu juga Soebardjo memperkenalkannya dengan kawan-kawan politiknya seperti Iwa Koesoemasoemantri, Gatot Taroenamihardjo, Boentaran Martoatmodjo dan Maramis. Juga dengan para opsir Angkatan Laut Jepang yang telah ikut memajukan nasionalisme Indonesia selama masa pendudukan. Dan juga dengan orang-orang Indonesia yang memimpin kesatuan-kesatuan semi-militer dari Angkatan Laut. Kesatuan-kesatuan itu dibentuk untuk tujuan menahan serangan Sekutu. Soebardjo memberikan beberapa sarana kepadanya — dokumen, mobil, dan pengawal — untuk melakukan perjalanan ke Banten. Dan Tan Malaka pun mendatangi unit-unit Angkatan Laut di Jakarta untuk memnerikan nasihat dan berpropaganda. Soebardjo dan kawan-kawannya banyakk berbicara dengan tamu mereka yang legendaris itu. Mereka ingin menyaring dan menyerap apa yang mereka anggap bermanfaat dari pandangan-pandangan tegas Tan Malaka. Kebetulan waktu itu mereka merasa sangat tidak yakin dengan haluan yang harus ditempuh Republik. Soebardjo boleh dikatakan menyimpan Tan Malaka untuk dirinya sendiri. Ia tidak memperkenalkannya dengan orang lain diluar lingkungan Angkatan Lautnya yang terdekat, dan mereka semua diharuskannya berjanji untuk tidak bicara apapun tentang tamu ajaibnya itu. Alasannya menurut Soebardjo, karena Kenpeitei masih bisa melakukan penangkapan. Padahal sebenarnya ada manfaatnya secara diam-diam ia memberitahukan kepada Soekarno dan Hatta tentang kembalinya Tan Malaka yang sensaonal itu. Soebardjo tentunya hampir tiap hari bertemu dengan mereka, dan bersama Iwa, Gatot, Boentaran dan Maramis dalam kabinet pertama Republik sejak tanggal 4 September. Nyatanya kelima orang itu tak mengatakan apa-apa. Sebaliknya Tan Malaka rupanya sudah puas dengan keadaan waktu itu. Ia merasa aman dalam lindungan Soebardjo, dan percaya penuh kepadanya. Ia menggantungkan diri pada informasi Soebardjo, dan tidak berusaha mencari tahu, apakah tuan rumahnya itu memang dapat dipercaya. Soebardjo rupanya memiliki rencana politik sendiri, dan dalam rencana itu Tan Malaka bisa menjadi pion yang penting. Ia barangkali
belum menilai dengan tepat rencananya itu, tetapi oportunis yang licik itu rupanya melihat adanya keuntungan dengan monopoli Tan Malaka untuk sementara.

Pemerintah Soekarno-Hatta sementara itu memilih haluan yang berhati-hati dengan menggunakan struktur-struktur politik masa pendudukan yang disesuaikan dengan keadaan baru. Dengan cara itulah juga kabinet yang pertama dikemudikan. Portefolio diberikan kepada para pejabat Indonesia yang dimasa pendudukan menduduki posisi tertinggi untuk orang Indonesia di departemen. Jadi di masa transisi itu mereka masih menjadi pejabat Jepang, namun sekaligus menjadi menteri. Sungguh suatu pengambilalihan kekuasaan yang cerdik dan nonkontroversial. Tetapi dari hari ke hari kekuasaan dan kewibawaan Jepang terus merosot, diantaranya disebabkan juga oleh demoralisasi dan keengganan yang semakin dalam untuk bercampur tangan dalam urusan politik orang Indonesia. Sementara itu pendaratan sekutu semakin dekat juga. Dengan makin surutnya Jepang dari urusan umum, semakin patut dipertanyakan juga keabsahan Pemerintah Republik. Apakah yang dilakukan oleh Sekutu? adakah artinya Atlantic Charter dan Perserikatan Bangsa-Bangsa dalam kasus kongkrit Indonesia itu? Disamping
pertanyaan-pertanyaan itu masih ada kekhawatiran yang memang beralasan, yaitu bahwa Sekutu dengan dipelopori Belanda akan menahan dan mengadili para pemimpin Indonesia yang terkemuka, antara lain tentu saja Soekarno, karena telah bekerja sama dengan Jepang. Kabinet waktu itu tak tahu, haluan mana yang harus ditempuh; sikapnya tetap pasif. Kritik Adam Malik, pemuda yang cukup menonjol waktu itu sangat tajam :

Pemerintah sudah dibentuk dan kabinet presidentil pertama sudah disusun, lama sesudah proklamasi. Tapi kabinet itu cuma daftar nama diatas kertas yang diberikan kepada pers. Tanda-tanda aksi sama sekali tak ada. Paling-paling berkumpul di Gedung Pegangsaan 56. Pemuda tidak melihat atau mendengar tentang usaha pemerintah untuk memberikan arti nyata kepada pemerintah. Tak ada kegiatan, tak ada rencana, tak ada keputusan, segalanya diluar kendali.

Pemuda tak sekedar membenci kelembaman pemerintah itu. Mereka pun bertindak, menghadapi tantangan Jepangyang masih kuat. Mereka membagikan informasi dan menggerakkan penduduk untuk menyebar selebaran, menuliskan semboyan di jalan-jalan, dan mengibarkan bendera kebangsaan. Aksi pertama itu disusul dengan menduduki perusahaan-perusahaan umum, pertama-tama perusahaan transport. Segera kemudian radio dan surat kabar diambil alih.

Barulah pada tanggal 9 September Soekarno dan Tan Malaka bertemu untuk pertama kali, di rumah dokter pribadi Soekarno, Dr. Soeharto. Pertemuan terjadi sesudah sekretaris Soekarno, Sajoeti Melik, memperkenalkan Soekarno dengan Tan Malaka. Ia memberitahukan kepada Soekarno, lalu Soekarno mengundang Tan Malaka ke rumah Soeharto. Sehari sebelumnya Soeharto diminta Soekarno menyiapkan ruangan untuk bertemu malam hari dengan seorang tamu yang tak disebut namanya. Ia minta penerangan rumah dimatikan sama sekali dan menjaga kerahasiaannya. Soekarno datang dengan ajudannya, dan Tan Malaka dengan Sajoeti Melik, naik sepeda. Tan Malaka memperkenalkan diri kepada Soeharto sebagai Abdulradjak dari Kalimantan. Soeharto mengantarkannya ke kamar belakang. Di sana Soekarno dan Tan Malaka melakukan pembicaraan, yang hanya dapat didengar oleh Sajoeti Melik.

Suasana pertemuan yang terjadi tiga minggu sesudah Proklamasi itu melukiskan dengan gamblang posisi Republik di Jakarta waktu itu — suatu gambaran yang sungguh tidak menggairahkan. Tan Malaka menerangkan, bahwa sifat rahasia pertemuan itu disebabkan masih hadirnya Jepang yang bersenjata lengkap, yang kemudian mengintai rumah Soekarno hingga Soekarno tidak dapat memerima Tan Malaka di rumahnya.

Soekarno kenal betul dengan buku-buku Tan Malaka tahun duapuluhan : Naar de ‘Republiek Indonesia’ dan Massa Actie. Khususnya Massa Actie banyak mempengaruhi pemikiran politik Soekarno, hingga ketika mengadili Soekarno dengan tuduhan menghasut di tahun 1931 para hakim banyak kali merujuk pada kutipan Soekarno. Dan Soekarno tinggal membenarkannya.

Soekarnolah yang membuka percakapan : “Dalam buku Massa actie rupanya anda menganggap watak imperialisme Inggeris berada diantara Imperialisme Belanda dan Imperialisme Amerika”. Tan Mlaka membatasi laporannya pada kalimat yang pertama dan yang terakhir, yaitu ketika Soekarno mengatakan sambil menuding Tan Malaka : “Kalau saya kehilangan kemampuan untuk bertindak, akan saya serahkan pimpinan revolusi kepada anda”. Sajoeti Melik kemudian melengkapi laporan tentang percakapan yang berlangsung dua jam itu. Pokok pembicaraan waktu itu tentu saja nasib revolusi. Pada pokoknya Tan Malaka sebagai seorang revolusioner internasional yang berpengalaman memberikan petunjuk kepada presiden Republik muda yang masih goyah itu. Menurut Sajoeti Melik, dalam pidato-pidatonya belakangan tentang proses revolusi, Soekarno banyak sekali mengutip Tan Malaka. Sebagai langkah kongkrit Tan Malaka mendesak agar pemerintah dipindahkan ke pedalaman. Tidak lama lagi Belanda akan kembali ke Indonesia menyusul Inggeris, dan Jakarta akan menjadi medan pertempuran.
Pengalaman ini baru untuk Soekarno. Ia sangat terkesan dan juga cemas, dan iapun bereaksi dengan spontan, yaitu menunjuk Tan Malaka sebagai penggantinya, apabila tak dapat nanti ia menjalankan fungsinya.

Beberapa hari kemudian berlangsung pertemuan rahasia yang kedua. Kembali Sajoeti yang mempertemukan mereka, kali itu sore hari di rumah Dr. Moewardi, pemimpin kesatuan paramiliter Barisan Pelopor. Peranan Sajoeti waktu itu sama pasifnya dengan peranan Soeharto. Hanya Sajoeti yang mendengar percakapan mereka Soekarno mengulangi janjinya untuk menunjuk Tan Malaka sebagai penggantinya. Sama dengan pada pertemuan pertama, ketika berpisah dua jam kemudian Soekarno memberikan usejumlah uang kepada Tan Malaka. Tan Malaka menganggap ususl Soekarno itu hanya sebagai tanda hormat dan sebagai isyarat bahwa ia percaya dan menghargai Tan Malaka. Ia tak merasa punya hak untuk memimpin revolusi, dan tidak juga merasa bahwa Soekarno punya hak untuk menyerahkan pimpinan itu kepadanya.

Dalam suatu sidang kabinet, Soekarno sempat menyatakan kekhawatirannya mengenai masa depannya kepada para menteri. Kalau Sekutu membunuhnya, perjuangan kemerdekaan harus diteruskan. Ia akan meninggalkan dokumen, dimana ia akan menyebut orang yang menurutnya kompeten untuk memimpin perjuangan itu.

Tan Malaka pastilah membicarakan kata-kata Soekarno itu dengan Soebardjo. Soebardjo mendapat kesan bahwa Tan Malaka senang memperoleh semacam surat rekomendasi dari Soekarno. Maka atas nama Tan Malaka, maka Soebardjo lalu minta surat itu dari Soekarno; Soekarno berjanji membuatnya, tapi tidak dilaksanakannya. Semua itu barangkali untuk sementara terdesak oleh hiruk pikuk sekitar rapat raksasa tanggal 19 September untuk mendukung Republik, yang berhari-hari lamanya membuat kabinet berada dalam keadaan krisis.

Barulah pada tanggal 30 September, ketika bertemu Tan Malaka di rumah Soebardjo dengan dihadiri juga oleh Iwa dan Gatot, Soekarno sepakat menyusun suatu testamen politik. Didalamnya Soekarno dan Hatta akan menunjuk Tan Malaka sebagai pengganti mereka, apabila mereka tak dapat memenuhi kewajibannya. Dari rumah Soebardjo, Soekarno langsung menemui Hatta. Hatta menduga, bahwa Soekarno menganggap dirinya sudah melangkah terlampau jauh, dan terlalu terpengaruh oleh perasaannya itu. Soekarno menerangkan kepada Hatta apa yang telah terjadi, dan menunjukkan rancangan testamen itu kepada Hatta. Hatta mengatakan tak akan menandatangani testamen demikian, tapi ia mengusulkan jalan keluar : Kalau ditunjuk empat orang pengganti dari empat aliran politik yang utama, barangkali ia bisa menerima. Tan Malaka mewakili golongan kiri ekstrim, Sjahrir golongan kiri moderat, Wongsonegoro golongan kanan dan Soekiman golongan Islam. Soekarno senang mendengar kompromi itu. Ia pun menelepon Soebardjo untuk mengadakan pertemuan lagi esok harinya. Kali itu Tan Malaka dan Iwa hadir untuk menerima kedatangan Soekarno dan Hatta. Hatta menjelaskan keberatannya. Ia menyatakan bahwa Tan Malaka seorang tokoh yang kontroversial di kalangan golongan kiri; hal itu dapat dilihat ketika Partai Komunis akan muncul kembali. Ia nasihati Tan Malaka untuk melakukan perjalanan keliling Jawa agar dapat dikenal penduduk dan untuk mengukur popularitasnya. Sesudah dilakukan debat sebentar, akhirnya usul Hatta diterima. Soekiman yang sedang bepergian ke Jawa Tengah digantikan oleh Iwa. Iwa merasa dapat berbuat demikian karena persahabatannya yang erat dengan Soekiman dan karena masa lampau politiknya yang berwatak Islam. Rancangan testamen dikoreksi, diketik, dan akhirnya ditandatangani oleh Soekarno dan Hatta. Soebardjo ditugaskan menyampaikan selembar kepada Sjahrir dan Wongsonegoro. Testamen diberikan tanggal hari itu, 1 Oktober.

Dari uraiannya sendiri, Tan Malaka terasa agak bersikap hati-hati dan menjaga jarak. Khususnya Soebardjo dilukiskannya sebagai pendorong dalam masalah testamen itu, dan memang berhasil. Dalam perkembangannya testamen berubah dari dokumen Soekarno untuk Tan Malaka menjadi dokumen Soekarno dan Hatta untuk empat orang pemimpin lain.

Rincian urain Soebardjo berbeda dengan uraian yang lain-lain. Menurut uraian Soebardjo ia ditelepon oleh Soekarno yang ingin bertemu dengan dirinya dan Tan Malaka. Kemudian Soekarno datang bersama Hatta. Iwa juga hadir. Tan Malaka meminta surat rekomendasi yang dijanjikan itu. Soekarno mengusulkan untuk membuat rancangannya ditempat itu juga, yang kemudian dibaca oleh Hatta. Hatta menyarankan untuk mengubahnya menjadi pernyataan yang menyebut juga Sjahrir dan Wongsonegoro. Kemudian atas usul Soebardjo ditambahkan juga Iwa sebagai wakil orang Sunda di Jawa Barat. Soebardjo mengetik teks itu, lalu diserahi tugas menyampaikannya kepada semua pengganti yang potensial itu. Tapi ia tak berhasil melaksanakan tugasnya. Menurut Soebardjo, sebabnya ialah gejolak revolusi waktu itu.

Jadi Tan Malaka ambil bagian besar dalam pembuatan dokumen resmi ini.
Teks dokumen itu sebagai berikut :

Testamen Kami

Kemerdekaan adalah hak segala bangsa, dan kolonialisme harus dihapuskan dari muka bumi karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan. Kami memproklamasikan kemerdekaan Indonesia karena kemauan rakyat dan sesuai dengan konstitusi yang mengejewantahkan kehendak rakyat akan negara yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.

Negara Indonesia kini menghadapi segala macam kesulitan yang hanya dapat diatasi oleh rakyat yang benar-benar bersatu dan penuh keberanian dibawah pimpinan yang cakap dan teguh. Sejarah membuktikan bahwa terlaksananya cita-cita kemerdekaan tergantung dari kemauan seluruh rakyat untuk mengorbankan segalanya — seperti ditunjukkan di Amerika Utara dan Selatan, Eropa Barat, Rusia, Mesir, Turki dan Cina. Kini telah tiba saatnya untuk menetapkan, kepada siapakah obor kemerdekaan harus diserahkan, apabila kami tidak lagi dapat meneruskan perjuangan ditengah rakyat kami. Perjuangan rakyat seterusnya untuk menjamin kemerdekaan harus bertumpu pada perstuan semua lapisan yang menjunjung tinggi Republik, seperti tersebut dalam Undang-Undang Dasar. Sesudah lama menimbang dengan seksama, dan dengan persetujuan penuh para pemimpin yang bertanggungjawab, maka dengan ini kami menyatakan bahwa pimpinan perjuangan kemerdekaan kami nantinya akan diteruskan oleh : Tan Malaka, Iwa Koesoemasoemantri, Sjahrir, Wongsonegoro.

Hidup Republik Indonesia.

Hidup Rakyat Indonesia.

Jakarta, 1 Oktober 1945.

Soekarno, Moh, Hatta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: