Nasionalisme Indonesia Saat Ini

Oleh : Rudi Hartono

Nasionalisme Indonesia adalah nasionalisme yang sejak awal anti kolonialisme dan anti imperialisme. Pembentukan Indonesia sebagai nation selain faktor kesamaan geografis, bahasa, kohesifitas ekonomi, dan yang paling pokok adalah make up psikologis sebagai bangsa terjajah. Mas, Tirto Adhi Suryo adalah bangsawan jawa pelopor pembentuk kesadaran nasionalisme tersebut. Lewat kecakapannya sebagai primbumi terdidik, lahir organisasi modern pertama; Serikat Priayi (SP). Organisasi ini tidak berumur panjang, dan tidak pernah kelihatan memimpin kesadaran politik anti penjajah karena di dalamnya tergabung kaum priayi Jawa yang masih memegang teguh status kepriayiannya. Namun organisasi ini telah menjadi media pertama kali secara struktur kaum pribumi mendiskusikan embrio sebuah Nation. Kesadaran pembentuk nation justru sesungguhnya berasal dari koran bernama “Medan Priayi” yang didirikan Tirto Adhi suryo pada tahun 1907 dengan format 125 kali 195mm, dengan tebal 22 halaman terbit seminggu sekali. Kenapa koran ini yang menjadi peletak dasarnya? Karena lewat koran inilah gagasan nasionalisme tertulis pertama kali dan dibaca dan menjadi pembentuk kesadaran awal tentang nasionalisme melampaui perbedaan agama, suku, dan organisasi. Koran tersebut diterbitkan dengan semboyan: “Suara orang-orang yang terperintah”. Kita masih mengingat bagaimana peranan tulisan telah menentukan proses gerak sejarah bangsa termasuk pembentukan nation, karena tanpa tulisan maka betapa sulitnya menyatukan nusantara yang Terdapat lebih dari tigaratus etnik berbeda di Indonesia, masing-masing dengan identitas budayanya sendiri, dan lebih dari duaratus limapuluh bahasa berbeda yang diucapkan di kepulauan (archipelago) Indonesia.

Terobosan nasionalisme yang semakin jelas titik terangnya sebagai media pembentuk kesadaran sebagai sebuah bangsa adalah tulisan Soekarno dalam pengadilan Belanda yang berjudul Indonesia Menggugat. Artikel ini menguraikan dengan jelas dampak buruk dari praktek kolonialisme terhadap kehidupan rakyat indonesia, dan menguras kekayaan alam indonesia. Ada seruan untuk membangun persatuan nasional untuk melawan penjajah, dan mobilisasi-mobilisasi umum untuk melawan kesewenang-wenangan penjajah. Gagasan nasional ini semakin menemukan akar persatuannya — tanpa dipaksakan dengan penyelenggaraan sumpah pemuda pada tahun 1928 yang melibatkan pemuda-pemudi, mahasiswa,dan pelajar dari semua kepulauan.

Kontra-Revolusi dan Matinya Nasionalisme Sejati

Nasionalisme Indonesia yang dirintis oleh Tirto Adhisuryo, di kuatkan oleh Soekarno, dan disebarkan dan di budayakan secara massif oleh organisasi sosial dan partai politik sejak 1920-an hingga 1960-an diinterupsi dan dihancurkan sampai berkeping-keping oleh kontra –revolusi tahun 1965. Soekarno berhasil mengarahkan pemimpin lokal/kepulauan untuk menerima persatuan nasional dengan jalan damai dan kesadaran sejati untuk melawan penjajahan belanda dan ancaman neo-kolonialisme. Lihat saja, bagaimana orang Aceh (yang sekarang membentuk Gerakan Aceh Merdeka) mau mengumpulkan emas dan kekayaan mereka untuk membeli sebuah pesawat pertama indonesia. Dalam membangun internasionalismenya, Soekarno memperkenalkan konsep ekonomi setara dan tidak ada eksploitasi dengan mengajak negara-negara Asia-Afrika, menolak kerjasama dengan blok imperialis dan lembaga bantuan moneternya karena cenderung ingin merampok negara miskin—baru merdeka.

Namun, naiknya rejim orde baru telah meluluhlantakkan bangunan nasionalisme sejati tersebut. Soeharto lansung membuka pintu ekonomi indonesia seluas-luasnya bagi kemakmuran korporasi dan negara-negara imperialis. Selama 32 tahun, soeharto telah sukses menjadikan indonesia betul-betul bangsa kuli, yang tunduk dan membebek pada tuntutan dan kehendak pemilik modal. Soeharto menghilangkan gagasan nasionalisme soekarno dan hanya mencomot istilahnya saja sedangkan dalam praktek sungguh sangat berbeda. Nasionalisme soeharto adalah Nasionalisme chauvinis, yang mengukuhkan kediktatoran militer terhadap kekuatan sipil. Dengan menggunakan tameng stabilitas politik guna menopang stabilitas ekonomi sebenarnya soeharto sedang mengibuli rakyat; “silahkan rakyat diam, jangan menuntut macam-macam agar tidak mengganggu stabilitas perampokan oleh kroni soeharto. Dokrin stabilitas politik dan faham nasionalisme integralistik menjadi faham Orde baru untuk menumpas semua kekuatan oposisi dan perlawanan lokal dengan istilah separatisme. Faham negara integralistik adalah faham yang diperkenalkan oleh Mr. Soepomo untuk menjelaskan konsep nasionalisme indonesia yang diambil dari tradisi kuno masyarakat Jawa. Faham integralistik ini mengandaikan bangsa indonesia ini sebagai satu keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak. Dalam adat masyarakat tradisional jawa, Ayah adalah kepala keluarga, sedangkan Ibu yang mengurusi domestiknya, dan anak harus patuh pada kedua orang tuanya.

Gerakan Aceh Merdeka(GAM), Organisasi Papua Merdeka(OPM), dan Republik Maluku Selatan (RMS), ataupun Organisasi Tanpa Bentuk (OTB), Gerakan Pengacau Keamanan(GPK) adalah label-label makna/discourse yang dibangun orde baru untuk menghilangkan ruang bagi kemunculan oposisi. Nasionalisme orde baru sekedar di tafsirkan untuk stabilitas kekuasaan, dan untuk itu orde baru telah menhalalka jalan kekerasan militer. Berbagai rentetan pelanggaran HAM di masa Orde Baru adalah bukti nyata bagaimana orde baru gagal meraih dukungan dari mayoritas rakyat, dan kepulauan ini untuk menegakkan kekuasaannya.

Nasionalisme Kini: Berwajah Ganda

Di bawah pemerintahan SBY-Kalla, dilema nasionalisme semakin mendapat tempat dalam kolom-kolom surat kabar, polemik-artikel, dan bahkan dalam mobilisasi massa. Ada hal yang menarik ketika sejumlah jenderal dan mantan petinggi militer mendeklarasikan blok politik, mengkritisi orinetasi pemerintahan SBY-Kalla yang semakin condong pada budak/antek asing. Kosakata “Imperialisme” setelah sekian lama di kuburkan dalam kosakata ilmiah bahasa indonesia, kembali mendapat tempat dan menemukan ruangnya kembali dalam mobilisasi politik, dan perdebatan intelektual.

Ada yang sangat lucu, saat SBY dan segenap politisi partai di negeri ini mengangkat panji-panji nasionalisme untuk mengutuk tindakan pengibaran bendera RMS, pengibaran bendera bintang kejora, dan penggunaan lambang GAM sebagai tandagambar Parpol Lokal di Aceh. Dalam kesempatan yang lain SBY merendahkan martabat bangsa ini ketika bertemu Bush, atau perwakilan pengusaha dari negara-negara maju. Bahkan SBY mensahkan UU Penanaman Modal, dan berbagai perangkat kebijakan dan perjanjian dengan negara lain yang sangat merendahkan martabat kita. Kenapa SBY tidak bereaksi—bersama politisi parpol di negeri ini—ketika militer singapura dan persenjataannya bebas melakukan latihan militer di perairan Indonesia. Dimana martabat SBY-Kalla sebenarnya?

Nasionalisme bagi SBY-Kalla, hanyalah manuver politik. Sebuah alat efektif untuk menghindari persoalan krisis ekonomi dan menaikkan popularitasnya. Tetapi, mestinya kita juga harus tahu bahwa SBY (yang eks tentara itu) sangat tunduk dan patuh dengan kehendak dan kepentingan pemodal asing di Indonesia.

2 Balasan ke Nasionalisme Indonesia Saat Ini

  1. ksemar mengatakan:

    Salam kenal. Bicara soal nasionalisme, rasanya hati kita tercabik-cabik. Tapi menurut saya, tidak adanya keseimbangan antara hak dan kewajiban menyebakan menipisnya rasa nasionalisme. Seseoarang yang hanya dituntuk kewajibannya tapi tidak diberikannya haknya dipastikan tidak akan memiliki loyalitas tinggi apalagi mati. Bagaimana menurut anda ? salam

  2. solindo mengatakan:

    Salam… Merdeka !!!

    Sepakat Bung.
    Nasionalisme Indonesia sepertinya memang sudah luntur. Nasionalisme Indonesia sekarang hanya diperuntukkan bagi anak-anak sekolah, pegawai negeri sipil dan juga militer (TNI/POLRI). Nasionalisme hanya terasa ketika terjadi klaim sepihak oleh Malaysia.

    Akan tetapi tidak terasa ketika TKI disiksa oleh majikan di negeri orang.
    Penguasa sekarang ini hanya mementingkan kepentingan para pemodal. Indonesia secara perlahan-lahan dan nyata dijual.

    Kaum Muda yang selalu teriak REVOLUSI tidak bisa bersatu…
    Kaum Muda dan Mahasiswa di Indonesia begitu besar kuantitasnya seperti buih dilautan yang terus mengambang hingga akhirnya menghilang.

    Mahasiswa pun banyak yang menjadi RESI di Menara Gading.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: