Tidak Nasionaliskah Kita?

Oleh: Danu Ari Wahyu P

Akhir-akhir ini diskursus tentang nasionalisme dan etno-nasionalisme kembali mencuat, mengisi ruang publik kita. Masih segar di dalam ingatan kita bagaimana konflik antara Indonesia dan pemerintah Malaysia terkait klaim masing-masing atas pulau Ambalat, kemudian Sipadan dan Ligitan. Saat itu, jargon-jargon nasionalisme nyaring terdengar. Bahkan jargon yang secara provokatif berisi ajakan perang seperti “Ganyang Malaysia” yang sudah lama tenggelam kini terdengar lagi, gaduh.

Lagi, sentimen nasionalisme kita kembali terusik ketika tiba-tiba terdengar salah satu lagu daerah Indonesia dinyanyikan dan dijadikan sebagai ikon pariwisata, lagi-lagi oleh Malaysia. Tak mau ketinggalan, para anggota DPR kita ramai-ramai mengutuk klaim sepihak pemerintah Malaysia tersebut.

Di sisi lain kita juga melihat menguatnya sentimen kedaerahan, etno-nasionalisme. Dari yang sebatas sentimen, sampai tindakan nyata yang terorganisir dari suatu daerah (kelompok tertentu) untuk memisahkan diri dari pangkuan NKRI. Dari persoalan Aceh, Papua, hingga penyusupan dan pengibaran bendera RMS di sela-sela acara kenegaraan, tepat di depan hidung presiden SBY. Banyak pihak marah atas kejadian ini. Kok bisa-bisanya acara kenegaraan dengan mekanisme pengamanan super ketat, dengan mudahnya disusupi oleh suatu kelompok yang selama ini dianggap separatis dan terlarang oleh pemerintah? Tapi pernahkan kita bertanya mengapa bisa muncul kelompok-kelompok semacam itu?

Beberapa hari lalu seorang kawanku bercerita. Belum lama ini, ketika sedang nongkrong di sebuah warung burjo dekat kontrakannya, dia dan beberapa kawannya bertemu dengan seorang mahasiswa asal Papua. Obrolan sempat tegang. Namun setelah temanku bercerita bahwa dirinya adalah mahasiswa perantauan dari Makassar (Sulsel), mahasiswa Papua yang setengah mabuk itu tersenyum, katanya, “Kita bersaudara.”

Pernyataan tersebut menunjukkan dua hal: Pertama, adanya semacam ikatan emosional -katakanlah begitu- yang cukup kuat di antara “sesama orang timur yang bersaudara.” Kedua, sebagai konsekuensi dari pandangan tersebut adalah keberadaan pihak lain yang dianggap berbeda, yang bukan saudara, bahkan mungkin musuh. Bagi mahasiswa Papua tersebut, orang Jawa dianggap sebagai penjajah, seperti halnya Belanda dulu yang harus diperangi.

Bukan Sembarang Nasionalisme?

Indonesia sebagai sebuah nasion-state bukanlah kenyataan yang hadir begitu saja, tetapi melewati sebuah proses historis yang panjang, penuh liku-liku dan lekuk. Berbeda dengan negara-negara lainnya, di Indonesia proses ini tidak berjalan bersamaan. Pun berbeda dengan, misalnya Pakistan, yang proses terbentuknya negara (state) berjalan mendahului pembentukan bangsa (nation). Di Indonesia adalah sebaliknya yang terjadi.

Diawali dengan sebuah peristiwa monumental di tahun 1928, sumpah pemuda. Peristiwa ini sering disebut sebagai tonggak awal lahirnya konsep Indonesia sebagai sebuah bangsa. Disatukan oleh perasaan senasib dan sepenanggungan para pemuda dari berbagai daerah berikrar dan menyatakan kebulatan tekad untuk “berbangsa satu, bertanah air satu, dan berbahasa satu.” Dari sini terlihat jelas bagaimana nasionalisme mengambil bentuk sebagaimana tercermin dari ketiga baris kalimat di atas. Bukan agama yang menyatukan mereka. Bukan pula sentimen daerah atau kesukuan. Melainkan adanya sebuah perasaan kolektif, yakni sama-sama ditindas dan tertindas oleh kolonialisme. Kesadaran akan adanya penindasan, perasaan kolektif dan cita-cita bersama untuk merdeka dan untuk kehidupan yang lebih baik inilah yang oleh Benedict Anderson disebut sebagai “sesuatu yang dibayangkan” .

Kalau sebelumnya nasionalisme bermkana kemandirian bangsa baik secara politik, ekonomi maupun budaya. Misalnya tercermin dalam ungkapan Soekarno “berdaulat secara politik, berdikari secara ekonomi, dan berkepribadian secara budaya.” Di bawah Orde Baru, nasionalisme mengalami penciutan makna. Sekedar dijadikan sebagai alat legitimasi rezim atau dimanipulasi untuk kepentingan segelintir elit belaka. Nasionalisme dijadikan sebagi alat untuk merepresi gerakan pro-demokrasi dan suara-suara kritis yang muncul dari bawah (masyarakat) . Siapapun yang berani mengkritik kebijakan pemerintah dengan gampang dicap sebagai tidak nasionalis. Siapapa pun yang berusaha mempertanyakan ketidakadilan pembangunan, menyinggung- nyinggung persoalan kemiskinan, atau korupsi para pejabat negara, dengan mudah dicap tidak nasionalis, bahkan dituduh subversif, enemy of the state.

Nasionalisme Orde Baru adalah nasionalisme yang anti-perbedaan. Nasionalisme yang dibangun lewat budaya diam (silence culture), kepatuhan, dan ketertundukan -yang terangkum dalam ritus-ritus simbolik seperti misalnya pengibaran bendera, pengecatan pagar dan pemasangan umbul-umbul setiap menjelang tujuh-belasan dengan klimaks upacara bendera memperingati detik-detik proklamasi yang syahdu, namun senantiasa heroik.

Nasionalisme jenis ini adalah nasionalisme yang rapuh. Setiap saat konflik sosial -yang biasanya berdimensi SARA (suku, agama, ras)- mudah terpicu. Seperti bom waktu yang tertanam dan setiap saat siap untuk meledak.

Sumpah Pemuda Jilid II

Lagi-lagi kaum muda (baca: mahasiswa) kembali menunjukkan perannya yang utama sebagai the agent of change. Karenanya tidaklah keliru kalau sastrawan besar seperti Pramoedya Ananta Toer dalam beberapa kesempatan berkomentar, “Sejarah Indonesia adalah sejarahnya angkatan muda.” Mei 1998 Soeharto berhasil dijatuhkan oleh gelombang aksi masa yang dimotori oleh mahasiswa.

Dalam perjuangan melawan kediktatoran tersebut bermunculan slogan-slogan, karya-karya sastra perlawanan (misalnya Wiji Thukul), dan lagu-lagu perjuangan seperti Darah Juang. Tak kalah pentingnya adalah lahirnya sumpah mahasiswa yang diilhami oleh semangat sumpah pemuda: “Kami Mahasiswa Indonesia mengaku berbangsa satu, bangsa yang gandrung akan keadilan. Kami Mahasiswa Indonesia mengaku bertanah air satu, tanah air tanpa penindasan. Kami Mahasiswa Indonesia mengaku berbahasa satu, bahasa kebenaran.”

Sumpah mahasiswa adalah penegasan kembali adanya perasaan kolektif itu. Sebuah perasaan kolektif sebagai bangsa yang melampaui batas-batas kesukuan, kelas, dan agama. Lahirnya sumpah mahasiswa ini menandai berseminya kembali harapan dan kerinduan kaum muda akan keadilan dan kebebasan. Sebuah tanah air tanpa penindasan, baik penindasan yang dilakukan oleh bangsa asing maupun sebangsanya sendiri. Dan, itulah nasionalisme!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: