2. Marhaenisme

sampul.jpg

AKU baru berumur 20 tahun ketika suatu ilham politik jang kuat menerangi pikiranku. Mula-mula ia hanja berupa kuntjup dari suatu pemikiran jang mengorek-ngorek otakku, akan tetapi tidak lama kemudian ia mendjadi landasan tempat pergerakan kami berdiri. Dikepulauan kami terdapat pekerdja-pekerdja jang bahkan lebih miskin daripada tikus-geredja dan dalam segi keuangan terlalu menjendihkan untuk bisa bangkit dibidang sosial, politik dan ekonomi. Sungguhpun demikian masing-masing mendjadi madjikan sendiri. Mereka tidak terikat kepada siapapun. Dia mendjadi kusir gerobak kudanja, dia mendjadi pemilik dari kuda dan gerobak itu dan dia tidak mempekerdjakan buruh lain. Dan terdapatlah nelajan-nelajan jang bekerdja sendiri dengan alat-alat—seperti tongkat-kail, kailnja dan perahu— kepunjaan sendiri. Dan begitupun para petani jang mendjadi pemilik tunggal dari sawahnja dan pemakai tunggal dari hasilnja. Orang-orang sematjam ini meliputi bagian terbanjak dari rakjat kami. Semua mendjadi pemilik dari alat produksi mereka sendiri, djadi mereka bukanlah rakjat proletar. Mereka punja sifat chas tersendiri. Mereka tidak termasuk dalam salahsatu bentuk penggolongan. Kalau begitu, apakah mereka ini sesungguhnja ? Itulah jang mendjadi renunganku berhari-hari, bermalam-malam dan berbulan-bulan. Apakah sesungguhnja saudaraku bangsa Indonesia itu ? Apakah namanja para pekerdja jang demikian, jang oleh ahli ekonomi disebut dengan istilah ,,Penderita Minimum” ?- Disuatu pagi jang indah aku bangun dengan keinginan untuk tidak mengikuti lculiah—ini bulcan tidak sering terdjadi. Otakku sudah terlalu penuh dengan soal-soal politik, sehingga tidak mungkin memusatkan perhatian pada studi.

Sementara mendajung sepeda tanpa tudjuan—sambil berpikir—alcu sampai dibagian selatan kota Bandung, suatu daerah pertanian jang padat dimana orang dapat menjaksikan para petani mengerdjakar. sawahnja jang ketjil, jang masing-masing luasnja kurang dari sepertiga hektar. Oleh karena boberapa hal perhatianku tertudju pada seorang petani jang sedang mentjangkul tanah mrliknja. Dia seorang diri. Pakaiannja sudah lusuh. Gambaran jang chas ini kupandang sebagai perlambang daripada rakjatku. Aku berdiri disana sedjenak memperhatikannja dengan diam. Karena orang Indonesia adalah bangsa jang ramah, maka aku mendekatinja. Aku bertanja dalam bahasa Sunda, ,,Siapa jang punja semua jang engkau kerdja-kan sekarang ini ?”
Dia berkata kepadaku, ,,Saja, djuragan.”
Aku bertanja lagi, ,,Apakah engkau memiliki tanah ini bersama-sama dengan orang lain ?”
,,0, tidak, gan. Saja sendiri jang punja.”
,,Tanah ini kaubeli ?”
,,Tidak. Warisan bapak kepada anak turun-temurun.”
Ketika ia terus menggali, akupun mulai menggali………aku menggali setjara mental. Pikiranku mulai bekerdja. Aku memikirkan teoriku. Dan semakin keras aku berpikir, tanjaku semakin bertubi-tubi pula. ,,Bagairnana dengan sekopmu ? Sekop ini ketjil, tapi apa-ka’il kepunjaanmu djuga ?”
,,Ja, gan.”
,,Dan tjangkul ?”
,,Ja, gan.”
,,Badjak ?”
,,Saja punja, gan.”
,,Untuk siapa hasil jang kaukerdjakan ?”
,,Untuk saja, gan.”
,,Apakah tjukup untuk kebutuhanmu ?”
la mengangkat bahu sebagai membela diri. ,,Bagaimana sawah jang begini ketjil bisa tjukup untuk seorang isteri dan empat orang anak ?”
,,Apakah ada jang didjual dari hasilmu ?” tanjaku.
,,Hasilnja sekedar tjukup untuk makan kami. Tidak ada lebihnja untuk didjual.”
,,Kau mempekerdjakan orang lain ?”
,,Tidak, djuragan. Saja tidak dapat membajarnja.”
,,Apakah engkau pernah memburuh ?”
,,Tidak, gan. Saja harus membanting-tulang, akan tetapi djerih-pajah saja semua untuk saja.”
Aku menundjuk kesebuah pondok ketjil, ,,Siapa jang punja rumah itu ?”,,Itu gubuk saja, gan. Hanja gubuk ketjil sadja, tapi kepunjaan saja sendiri.”,,Djadi kalau begitu,” kataku sambil ~nenjaring pikiranku sendiri ketika kami berbitjara, ,,Semua ini engkau punja ?”,,Ja, gan.”Kemudian aku menanjakan nama petani muda itu. Ia menjebut namanja. ,,Marhaen.” Marhaen adalah nama jang blasa seperti Smith dan Jones. Disaat itu sinar ilham menggenangi otakku. Aku akan memakai nama itu untuk rnenamai semua orang Indonesia bernasib malang seperti itu ! Semendjak itu kunamakan rakjatku rakjat Marhaen. Selandjutnja dihari itu aku mendajung sepeda berkeliling mengolah pengertianku jang baru. Aku memperlantjarnja. Aku mempersiapkan kata-kataku dengan hati-hati. Dan malamnja aku memberikan indoktrinasi mengenai hal itu kepada kumpulan pemudaku.,,Petani-petani kita mengusahakan bidang tanah jang sangat ketjil sekali. Mereka adalah korban dari sistim feodal, dimana pada mulanja petani pertama diperas oleh bangsawan jang pertama dan seterusnja sampai keanak-tjutjunja selama berabad-abad. Rakjat jang bukan petanipun mendjadi korban daripada imperialisme perdagangan Belanda, karena nenek-mojangnja telah dipaksa untuk hanja bergerak dibidang usaha jang ketjil sekedar bisa memperpandjang hidupnja. Rakjat jang mendjadi korban ini, jang rneliputi hampir seluruh pen duduk Indonesia, adalah Marhaen.” Aku menundjuk seorang tukang gerobak, ,,Engkau……. engkau jang disana. Apakah engkau bekerdja dipabrik untuk orang lain ?”,,Tidak,” katanja.,,Kalau begitu engkau adalah Marhaen.” Aku menggerakkan tangan kearah seorang tukang sate. ,,Engkau…… engkau tidak punja pembantu, tidak punja madjikan engkau djuga seorang Marhaen. Seorang Marhaen adalah orang jang mempunjai alat-alat jang sedikit, orang ketjil dengan milik ketjil, dengan alat-alat ketjil, sekedar tjukup untuk dirinja sendiri. Bangsa kita jang puluhan djuta djiwa, jang sudah dimelaratkan, bekerdja bukan untuk orang lain dan tidak ada orang bekerdja untuk dia. Tidak ada penghisapan tenaga seseorang oleh orang lain. Marhaenisme adalah Sosialisme Indonesia dalam praktek.” Perkataan ,,Marhaenisme” adaiah lambang dari penemuan kembali kepribadian nasional kami. Begitupun nama tanah-air kami harus mendjadi lambang. Perkataan ,,Indonesia” berasal dari seorang ahli purbakala bangsa Djerman bernama Jordan, jang beladjar dinegeri Belanda. Studi chususnja mengenai Rantaian Kepulauan kami. Karena kepulauan ini setjara geografis berdekatan dengan India, ia namakanlah ,,Kepulauan dari India”. Nesos adalah bahasa Junani untuk perkataan pulau-pulau, sehingga mendjadi Indusnesos jang achirnja mendjadi Indonesia. Ketika kami merasakan perlunja untuk menggabungkan pulau-pulau kami mendjadi satu kesatuan jang besar, kami berpegang teguh pada nama ini dan mengisinja dengan pengertian-pengertian politik hingga iapun mendjadi pembirnbing dari kepribadian nasional. Ini terdjadi ditahun 1922-1923.Dalam tahun-tahun inilah, ketika kami sebagai bangsa jang dihinakan diperlakukan seperti sampah diatas bumi oleh orang jang menaklukkan kami. Karni tidak dibolehkan apa-apa. Ditindas dibawah tumit pada setiap kali, bahkan kami dilarang mengutjapkan perkataan ,,lndonesia”. Telah terdjadi sekali ditengah berapi-apinja pidatoku, kata ,,lndonesia” melompat dari mulutku. ,,Stop……..stop………”perintah polisi. Mereka meniup peluitnja. Mereka memukulkan tongkatnja. ,,Dilarang samasekali mengutjapkan perkataan itu ………..hentikan pertemuan ” Dan pertemuan itu dengan segera dihentikan. Di Surabaja aku tak ubah seperti seekor burung jang mentjari-tjari tempat untuk bersarang. Akan tetapi di Bandung aku sudah mendjadi dewasa. Bentuk fisikku berkembang dengan sewasjarnja. Bintang matinee Amerika jang mendjadi idaman didjaman itu adalah Norman Kerry dan, supaja kelihatan lebih tua dan lebih ganteng, aku memelihara kumis seperti Kerry. Tapi sajang, kumisku tidak melengkung keatas pada udjung-udjungnja seperti knmis bintang itu. Dan isteriku menjatakan, bahwa Charlie Chaplinlah jang berhasil kutiru. Achiroja usahaku satu-satunja untuk meniru seseorang berachir dengan kegagalan jang menjedihkan dan semua pikiran itu kemudian kulepaskan segera dari ingatan. Ditahun 1922 aku untuk pertamakali mendapat kesukaran. Ketilka itu diadakan rapat besar disuatu lapangan terbuka dikota Bandung. Seluruh lapangan menghitam oleh manusia. Ini adalah rapat Radicale Concentratie, suatu rapat raksasa jang diorganisir oleh seluruh organisasi kebangsaan sehingga wakil-wakil dari setiap partai jang ada dapat berkumpul bersama untuk satu tudjuan, jaitu memprotes berbagai persoalan sekaligus. Setiap pemimpin berpidato. Dan aku, aku baru seorang pemuda. Hanja mendengarkan. Akan tetapi tiiba-tiba terasa olehku suatu dorongan jang keras untuk mengutjapkan sesuatu. Aku tidak bisa mengendalikan diriku sendiri. Mereka semua membitjarakan omongkosong. Seperti biasa mereka meminta-minta. Mereka tidak menuntut.Naiklah tangan jang berapi-api dari Sukarno, mertjusuar dari Perkumpulan Pemuda, untuk minta izin ketua agar diberi kesempatan berpidato dihadapan rapat.,,Saja ingin berbitjara,” aku berteriak.,,Silakan,” ketua berteriak kembali.Disana ada P.I.D., Polisi Rahasia Belanda, jang bersebar disegala pendjuru Tepat dimukaku berdiri seorang polisi bermuka merah mengantjam dan berbadan besar. Ini adalah alat jang berkuasa jaitu kulitputih. Hanja dia sendiri jang dapat menjetopku. Dia seorang dirinja, dapat membubarkan rapat. Dia seorang dirinja, dengan kekuasaan jang ada padanja dapat mentjerai-beraikan pertemuan kami dan mendjebloskanku kedalam tahanan. Akan tetapi aku masih muda, tidak mau peduli dan penuh semangat. Djadi naiklah aku kemimbar dan mulai berteriak, ,,Mengapa sebuah gunung seperti gunung Kelud meledak ? Ia meledak oleh karena lobang kepundannja tersumbat Ia meledak oleh karena tidak ada djalan bagi kekuatan-kekuatan jang terpendam untuk membebaskan dirinja. Kekuatan-kekuatan jang terpendam itu bertumpuk sedikit demi sedikit dan………..DORRR. Keseluruhan itu meletus.,,Kedjadian ini tidak ada bedanja dengan Gerakan Kebangsaan kita Kalau Belanda tetap menutup mulut kita dan kita tidak diperbolehkan untuk mentjari djalan keluar bagi perasaan-perasaan kita jang sudah penuh, maka saudara-saudara, njonja-njonja dan tuan-tuan, suatu saat akan terdjadi pula ledakan dengan kita..Dan manakala perasaan kita meletus, Den Haag akan terbang keudara. Dengan ini saja menantang Pemerintah Kolanial jang membendung perasaan kita.
Dari sudut mataku aku melihat Komisaris Polisi itu menudju kedepan untuk mentjegahku terus berbitjara, akan tetapi aku begitu bersemangat dan menggeledek terus.,,Apa gunanja kita puluhan ribu banjaknja berkumpul disini djikalau jang kita kerdjakan hanja menghasilkan petisi ? Mengapa kita selalu merendah diri memohon kepada ‘Pemerintah’ untuk meminta kebaikan hatinja supaja mendirikan sebuah sekolah untuk kita ? Bukankah itu suatu Politik Berlutut ? Bukankah itu suatu politik memohon dengan mendatangi Jang Dipertuan Gubernur Djendral Hindia Belanda, jang dengan rnemakai dasi hitam menerima delegasi jang membungkuk-bungkuk dan menundjukkan penghargaan kepadanja dan menjerahkan kepada pertimbangannja suatu petisi ? Dan merendah diri memohon pengurangan padjak? Kita merendah diri….memohon, merendah diri memohon………Inilah kata-kata jang selalu dipakai oleh pemimpin-pemimpin kita.,,Sampai sekarang kita tidak pernah mendjadi penjerang. Gerakan kita bukan gerakan jang mendesak, akan tetapi gerakan kita adalah gerakan jang meminta-minta. Tak satupun jang pernah diberikannja karena kasihan. Marilah kita sekarang mendjalankan politik pertjaja pada diri sendiri dengan tidak mengemis-ngemis. Hajo kita berhenti mergemis. Sebalikn.ja, hajo kita berteriak, ,,Tuan Imperialis, inilah jang kami TUNTUT !”Kemudian, polisi-polisi jang mahakuasa dan mahakuat ini, jang punja kekuasaan untuk menghentikan rapat ini, bertindak. Mereka menjetop rapat dan menjetopku. Heyne, Kepala Polisi Kota Bandung, sangat marah. Sambil menjiku kanan-kiri melalui rakjat jang berdiri berdjedjal-djedjal, ia melompat keatas mimbar, menarikku kebawah dan mengumumkan, ,,Tuan Ketua, sekarang saja menjetop seluruh pertemuan. Habis. Tamat. Selesai. Tuan-tuan semua dibubarkan. Sernua pulang sekarang. KELUAR !” Begitu pertamakali Sukarno membuka mulutnja, ia segera harus berhubungan dengan hukum. Dengan tjepat aku mendjadi buah-tutur orang dan setiap orang mengetahui nama Sukarno. Aku memperoleh inti pengikut jang kuat. Akan tetapi, sajang, akupun mengembangkan pengikut jang banyak diantara polisi Belanda. Kemanapun aku pergi mereka ikuti. Maka mendjalarlah dari mulut kemulut: ,,Di Sekolah Teknik Tinggi ada seorang pengatjau. Awasi dia.” Dengan satu pidato si Karno—jang pendiam, jang suka menarik diri dan ditjintai membuat musuh-musuh djadi geger dan selama 20 tahun kemudian aku tak pernah ditjoret dari daftar hitam mereka. Prestasiku jang pertama ini menimbulkan kegemparan hebat, sehingga aku segera dipanggil kekantor Presiden universitas. ,,Kalau engkau ingin melandjutkan peladjaran disini,” Professor Klopper memperingatkan, ,Engkau harus bertekun pada studimu. Saja tidak keberatan djika seorang mahasiswa mempunjai tjita-tjita politik, akan tetapi haruslah diingat bahwa ia pertama dan paling utama memenuhi kewadjiban sebagai seorang mahasiswa. Engkau harus berdjandji, mulai hari ini tidak akan ikut-tjampur dalam gerakan politik.”Aku tidak berdusta kepadanja. Aku menerangkan persoalanku dengan djudjur. ,,Professor, apa jang akan saja djandjikan ialah, bahwa saja tidak akan melalaikan peladjaran-peladjaran jang tuan berikan dalam kuliah.”,,Bukan itu jang saja minta kepadamu.”,,Hanja itu jang dapat saja djandjikan, Professor. Akan tetapi djandji ini saja berikan dengan sepenuh hati. Saja berdjandji dengan kesungguhan hati untuk menjediakan lebih banjak waktu pada studi saja.” Ia sangat baik mengenai hal ini. ,,Apakah kata-katamu dapat saja pegang, bahwa engkau akan berhenti berpidato dalam rapat umum selama masih dalam studi ?”,,Ja, Professor,” aku berdjandji, ,,Tuan memegang utjapan saja jang sungguh-sungguh.”Dan djandji ini kupegang teguh. Berbitjara dihadapan massa bagiku lebih daripada segala-galanja untuk mana aku hidup. Oleh karena aku tidak dapat berbitjara membangkitkan semangat rakjatdjelata dalam keadaan sesungguhnja maka kulakukanlah ini dalam chajalan. Pada suatu malam rumah Inggit jang disediakan djuga untuk bajar-makan penuh dan kami terpaksa membagi tempat. Aku membagi tempat-tidurku dengan seorang peladjar. Ditengah malam aku diserang oleh suatu desakan untuk berpidato dengan nafsu jang bernjala-njala, seakan-akan aku berbitjara dihadapan 10.000 orang jang bersorak-sorai dengan gegap-gempita. Sambil berdiri tegak aku menganggap tempat-tidurku sebagai mimbar dan aku mulai menggegapgeletar.,,Engkau tahu apakah Indonesia ?” aku berteriak kepunggung temanku setempat-tidur. ,,Indonesia adalah pohon jang kuat dan indah ini. Indonesia adalah langit jang biru dan terang itu. Indonesia adalah mega putih jang lamban itu. Indonesia adalah udara jang hangat ini.”,,Saudara-saudaraku iang tertjinta, laut jang menderu memukul-mukul kepantai ditjahaja sendja, bagiku adalah djiwanja Indonesia jang bergerak dalam gemuruhnja gelombang samudra. Bila kudengar anak-anak ketawa, aku mendengar Indonesia. Manakala aku menghirup bunga-bunga, aku menghirup Indonesia. Inilah arti tanah-air kita bagiku.”Setelah beberapa djam mendengarkan perkataanku jang membakar hati, Djoko Asmo lebih memerlukan tidur daripada mendengarkan golakan perasaanku. Djam dua tengah malam dia tertidur njenjak ditengah-tengah pidatoku jang mentjatjau. Aku kehabisan tenaga samasekali sehingga ditengah pidato pembelaanku jang bersemangat akupun terhempas lena. Esok paginja kami baru tahu, bahwa kami lupa mematikan lampu. Kelambu kami hampir hangus samasekali. Lampu itu menjala sepandjang malam sampai mendjilat kebagian bawah dan kami kedua-duanja hampir kelemasan oleh udara dan asap jang hebat. Tapi untunglah. Kami tidak turut terbakar. Terpikir olehku, kalau seseorang hendak mendjadi Djuru selamat daripada bangsanja dikemudian hari untuk membebaskan rakjatnja, haruslah ia menjelamatkan dirinja sendiri lebih dulu. Aku masih terlalu banjak menjurahkan waktu untuk pemikiran politik, djadi tak dapatlah diharapkan akan mendjadi mahasiswa jang betul-betul gemilang. Kenjataan bahwa aku masih dapat melintasi batas nilai sedang sungguh mengherankan. Siapa jang beladjar ? Bukan aku. Tidak pernah. Aku mempunjai ingatan seperti bajangan gambar dan dalam pada itu aku terlalu sibuk memompakan soal-soal politik kekepalaku, sehingga tidak tersisa waktuku untuk membuka buku sekolah. Dewi dendamku adalah ilmu pasti. Aku tidak begitu kuat dalam ilmu pasti. Menggambar arsitektur bagiku sangat menarik, akan tetapi kalkulasi bangunan dan komputasi djangan tanja. Kleinste Vierkanten atau jang dinamakan Geodesi, sematjam penjelidikan tanah setjara ilrnu pasti dimana orang mengukur tanah dan beladjar membaginja dalam kaki-persegi, dalam semua ini aku gagal. Untuk udjian ilmu pasti kuakui, bahwa aku bermain tjurang. Tapi hanja sedikit. Kami semua bermain tjurang dengan berbagai djalan. Ambillah misalnja peladjaran menggambar konstruksi bangunan. Aku kuat dalam peladjaran ini. Dalam waktu udjian dosen berdjalan pulang-balik diantara medja-medja memperhatikan setiap orang. Segera setelah ia berada dibagian lain dalam ruangan ketika menghadapkan punggungnja pada kami, salah-seorang jang berdekatan mendesis, ,,Ssss, Karno, buatkan bagan untukku, kau mau ?” Aku bertukar kertas dengan dia. dengan terburu-buru membuat gambar jang kedua dan dengan tjepat menjerahkan kembali kepadanja. Kawan-kawanku membalas usaha ini dalam peladjaran Kleinste Vierkanten kalau Professor membuat tiga pertanjaan dipapan-tulis dan hanja memberi kami waktu 45 menit untuk mengerdjakannja. Kawan-kawan menempatkan kertasnja sedemikian rupa disudut bangku, sehingga aku dapat dengan mudah menjalin djawabannja. Sudah tentu aku mentjontoh dari mahasiswa jang lebih pandai dalam ilmu pasti. Tjara ini bukanlah semata-mata apa jang dinamakan orang berbuat tjurang. Di Indonesia ini adalah wadjar djika digolongkan dalam apa jang kami sebut kerdja-sama jang erat. Gotong-rojong. Alasan mengapa aku gagal dan hanja memperoleh nilai tiga adalah karena pada suatu kali sang Professor melakukan taktik litjik terhadap kami. Ia mengedjutkan kami dengan udjian lisan, dimana kami menempuhnja satu persatu. Hanja Professor dan seorang mahasiswa jang ada dalam ruangan. Aku karenanja djatuh.Semua kuliah diadjarkan dalam bahasa Belanda. Aku berpikir dalam bahasa Belanda. Bahkan sekarangpun aku memaki-maki dalam bahasa Beianda. Kalau aku mendoa kehadirat Tuhan Jang MahaKuasa, maka ini kulakukan dalam bahasa Belanda.Kurikulum kami disesuaikan menurut kebutuhan masjarakat pendjadjahan Belanda. Pengetahuan jang kupeladjari adalah pengetahuan teknik kapitalis. Misalnja, pengetahuan tentang sistim irigasi. Jang dipeladjari bukanlah tentang bagaimana tjaranja mengairi sawah dengan djalan jang terbaik. Jang diberikan hanja tentang sistem pengairan tebu dan tembakau. Ini adalah irigasi untuk kepentingan Imperialisme dan Kapitalisme. Irigasi dipeladjari tidak untuk memberi makan rakjat banjak jang kelaparan, akan tetapi untuk membikin gendut pemilik perkebunan. Peladjaran kami dalam pembuatan djalan tidak mungkin dapat menguntungkan rakjat. Djalan-djalan jang dibuat bukan melalui hutan dan antar-pulau sehingga rakjat dapat berdjalan atau bepergian lebih mudah. Kami hanja diadjar merentjanakan djalan-djalan tambahan sepandjang pantai dari pelabuhan kepelabuhan, djadi pabrik-pabrik dengan demikian dapat mengangkut hasilnja setjara maksimal dan komunikasi jang tjukup antara kapal-kapal jang berlajar. Ambillah ilmu pasti. Universitas manapun tidak memberi peladjaran rantai-ukuran. Kami diberi. Ini adalah sebuah pita jang pandjangnja 20 meter jang hanja dipakai oleh para pengawas diperkebunan-perkebunan. Diruangan bagan, kalau karni membuat rentjana kota teladan, kamipun harus menundjukkan tempat kedudukan ,,Kabupaten”, jaitu tempat tinggal Bupati jang mengawasi rakjat desa membanting-tulang.Diminggu terachir ketika diadakan pelantikan aku mempersoalkan ini dengan Rector Magnificus dari Sekolah Teknik Tinggi ini, Professor Ir. G. Klopper M.E.,,Mengapa kami diisi dengan pengetahuan-pengetahuan jang hanja berguna untuk mengekalkan dominasi Kolonial terhadap kami ?” tanjaku.,,Sekolah Teknik Tinggi ini,” ia menerangkan, ,,didirikan terutama untuk memadjukan politik Den Haag di Hindia. Supaja dapat mengikuti ketjepatan ekspansi dan eksploitasi, pemerintah saja merasa perlu untuk mendidik lebih banjak insinjur dan pengawas jang berpengalaman.”,,Dengan perkataan lain, kami mengikuti perguruan tinggi ini untuk memperkekal polilik Imperialisme Belanda disini ?”,,Ja, tuan Sukarno, itu benar,” ia mendjawab. Dan begitulah, sekalipun aku harus mempersembahkan seluruh hidupku untuk menghantjurkan kekuasaan Kolonial, rupanja aku harus berterima-kasih pula kepada mereka atas pendidikan jang kuterima. Dengan dua orang kawan bangsa Indonesia jang berhasil bersama-sama denganku, maka pada tanggal 25 Mei 1926 aku memperoleh promosi dengan gelar ,,Ingenieur”. Idjazahku dalam djurusan teknik sipil menentukan, bahwa aku adalah seorang spesialis dalam pekerdjaan djalan-raja dan pengairan. Aku sekarang diberi hak untuk menuliskan namaku: Ir. Raden Soekarno. Ketika ia memberi gelar sardjana teknik kepadaku, Presiden universitas berkata, ,,Ir. Sukarno, idjazah ini dapat robek dan hantjur mendjadi abu disatu saat. Ia tidak kekal. Ingatlah, bahwa satu-satunja kekuatan jang bisa hidup terus dan kekal adalah karakter dari seseorang. Ia akan tetap hidup dalam hati rakjat, sekalipun sesudah mati.” Aku tak pernah melupakan kata-kata ini.

3 Balasan ke 2. Marhaenisme

  1. bayu aji mengatakan:

    marhaenisme sudah ketinggalan jaman di tengah masyarakat yang menuju era globalisasi omong ksong bangga dengan kemampuan sendiri untuk dipakai sendiri tanpa peduli perkembangan dunia luar

  2. Kusnadi mengatakan:

    sesungguhnya marhenisme belum ketinggalan jaman bung karena sesungguhnya marhenisme belum pernah dijalankan dengan maksimal di bangsa tercinta ini, bagi saya bangga dengan kemampuan diri sendiri bukan merupakan omong kosong tapi merupakan sebuah perwujudan dari kepribadian bangsa indonesia yang memang bangsa yang besar yang jadi permasalah bagi kita sebagai anak idiologi bung karno yang mempelajri marhaenisme kapan akan menjalankan marhenisme dengan makasimal rebut bangsa ini dari tangan kaum kapitalis

  3. Bambang Pranoto mengatakan:

    Kita harus memiliki kejujuran intelektual. Jadi kalau belum tahu marhaenisme jangan buru2 apriori, kunolah, dan macem macem lagi. Disisi lain Globalisasi puja-puja. Berdikari dikatakan omong kosong. Mas Bayu Aji orang pinter yang keblinger tuh. Nggak pernah makan ideologi alias nggak punya jati diri. Jangan2 otaknya berisi persepsi yang keliru tentang negara dan dasar negara Pancasila. Kalau marhaenisme itu jelas sumbernya dari bumi budaya Indonesia, digali oleh bangsa Indonesia, untuk Bangsa Indonesia. Lah Globalisasi itu dari mana, siapa ideolognya. Globalisasi bukan ideologi. Globalisasi teori ekonomi dunia hadapi persaingan negara2 industri hadapi pasar dunia. Maunya semua negara berkembang buka pintu jadi pasarmya. Lha kalau kita nggak mau berdikari artinya menyerah dijadikan obyek atau pasar alias negara konsumennya kapitalis.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: